BAB I
PERMASALAHAN
A.Pendahuluan
Tampak para ahli pendidikan dan birokrasinya sepakat bahwa masalah mutu pendidikan nasional terletak pada faktor kunci belum tercapainya standar mutu guru. Usaha perbaikannya yaitu meningkatkan mutu guru dan kesejahteraanya serta fasilitas pendidikannya. Permasalahan guru saat ini menyangkut: 1). Kondisi guru belum menunjukkan profesionalisme kerja, 2). Arah lembaga pendidikan guru belum mampu membentuk watak guru profesionalisme, 3). Produk pendidikan sekolah dimana guru berperan kurang mengembangkan kata hati peserta didiknya.
Usaha minimal yang dapat dilakukan dengan cara melakukan penyajian bahan belajar mengenai: 1). Peran guru dalam kancah pendidikan, 2).Peran guru dalam mengarahkan alternative pilihan tujuan hidup peserta didik, 3). Peran guru dalam melakukan tindakan dan teknik pembelajaran serta pendidikan yang relavan.
Karena itu lembaga pendidikan guru harus mengambil peranan dalam peranan profesionalitas. Paradigma peran guru saat ini yang dimaknai teaching as presenting information atau pun teaching as transmitting information harus diubah menjadi paradigma peran guru yang dimaknai teaching as encouraging (anjuran) active learning, bahkan ditingkatkan menuju teaching as developing a better person. Sehingga tempat belajar menjadi menyenangkan untuk belajar.
Guru professional harus berhadapan langsung dengan peserta didiknya dalam penyesuaian tingkat kemampuan peserta didik. Sehingga guru dapat membentuk mengapresiasi kehidupan serta mengantisipasi perkembangan masa depan dalam era persaingan dan globalisasi.
Karakteristik guru professional: 1). Menguasai bidang keahliannya secara baik, 2). Mempunyai komitmen moral tinggi atas pekerjaan bidang keahliannya itu, 3). Dapat memecahkan persoalan rumit dalam bidang keahliannya dengan wajar dan hasil yang bermutu.
B. Hilangnya Pedagogik
Dalam dasa warsa akhir mellinium ke-2 muncul pemberitaan mengenai pedagogic menuju lonceng kematian. Faktor penyebabnya bukan karena pedagogic tidak bermanfaat, melainkan soal selera. Indikasi kepiawaian mengajar adalah penampilan kewibawaan. Penampilan guru yang beribawa akan memberikan kontribusi terhadap hasil pendidikan yang bermutu.
Upaya untuk memahami kewibawaan penampilan guru ialah dengan menguasai pedagogic dan filsafat pendidikan. Tapi sekarang pendidikan guru sangat mengutamakan penguasaan materi disiplin ilmu,sehingga posisi pedagogic dan filsafat pendidikan bukan lagi bagian penting dalam kurikulum pendidikan guru tersebut.
Penampilan guru dengan kewibawaan lemah tidak akan mampu mengendalikan proses belajar mengajar, guru yang demikian itu dapat memberikan akses menurunnya moralitas siswa. Penampilan guru dengan kewibawaan yang lemah dilingkungan teman sejatwanya pun akan bermain intrik dan politik agar memperoleh jalan mulus untuk memenuhi ambisi pribadinya.
Jadi sejauh ini pedagogi “dirampas” dari pengakuan guru dan sekolah oleh kekuatan birokrasi pendidikan, sehingga guru dan tenaga kependidikan menjadi pelaksana rutin segala sesuatu kebijakan birokrasi. Pembentukan iklim penyeragaman penampilan guru di kelas, berakibat kemampuan unggul siswa terabaikan sehingga keluaran sekolah cenderung pragmatic, disorientasi social dan tidak kreatif atau berdedikatif.
Pemberlakuan kurikulum dilengkapi sejumlah pedoman pelaksanaanya secara rinci, mengakibatkan kreativitas guru terpasung. Tugas guru lebih condong pada tuntutan gugur kewajiban, sehingga pendekatan mengajar yang dilaksanakan guru pun tidak berubah diseputar ceramah, tugas PR, menyalin latihan, menjawab soal, dan mengikuti les atau bimbel.
Pendidikan berusaha membantu manusia supaya meraih kootonomiannya (kedewasaannya), yaitu manusia yang memiliki integritas emosi, intelek dan perbuatan yang diwujudkan didalam kebebasan menetapkan pilihan secara etis dan bertanggung jawab, tujuan hidupnya tidak berorientasi pragmatic dan materialistic.
C.Tiga Peluang Kesalahan Guru
Secara teoritis ada tiga peluang bagi guru melakukan kesalahan didalam tugas mengajar, yaitu:
1). Kesalahan Teknis yaitu guru yang kurang terampil dalam melaksanakan pembelajaran yang baik.
2). Kesalahan Konsep yaitu guru yang menafsirkan konsep-konsep ilmu pendidikan secara keliru.
3). Kesalahan Kepribadian yaitu guru yang memiliki sumber dan struktur kepribadian yang menyimpang.
Padahal guru seharusnya menjadi teladanan bagi murid-muridnya meskipun kesalahannya itu tidak mengandung tuntutan hukum positif tetapi perbuatan guru dapat dapat dipertanggungjawabkan secara moral dan yuridis. Selain itu pada gilirannya guru akan memberikan kontribusi terhadap proses pembelajaran terutama: a). Dapat menciptakan suasana pengajaran yang manusiawi. b). Dapat mengambil keputusan yang adil dan hikmat bijaksana. c). Dapat memberikan materi pengajaran yang mengandung muatan atau pesan-pesan nilai/moral yang kelak bagi siswa mampu menuntun perilaku dalam sepanjang kehidupannya secara bermoral.
Kebrutalan siswa itu sempat menjadi focus perhatian banyak pihak serta dianggap penting untuk menghidupkan kembali budi pekerti sebagai mata pelajaran tersendiri di sekolah. Dengan demikian solusi yang diperlukan guru adalah peningkatan kemampuan mengajarkan materi pelajaran yang sekaligus kemampuan mendidik siswa.
Oleh karena itu, perbedaan antara level sertifikasi pendidik terletak pada tingkat kualifikasinya. Sertifikasi pendidik level A, yaitu berkualifikasi dalam interaksi mengajar secara reflektif/proaktif. Sertifikasi pendidik level B, yaitu berkualifikasi dalam interaksi mengajar secara alektif/reaktif. Sertifikasi pendidik level C, yaitu berkualifikasi dalam interaksi mengajar secara dialogic/partisipatif. Sertifikasi pendidik level D, yaitu berkualifikasi dalam interaksi mengajar secara habit formation/ kasih sayang.
Sehingga penyelenggaraan sertifikasi pendidik itu jelas tidak terletak pada lamanya ataupun besarnya biaya.
BAB II
Peran Pendidik dan Pengajar
Pemahaman peran guru dapat diketahui setelah melakukan pengamatan terhadap pendidikan. Pendidikan tampak pada proses pembelajaran seperti ketika pendididk mentransfer nilai-nilai tanggung jawab, ketika pendidik membantu perkembangan anak didik, dan ketika pendidik menyiapkan para peserta didik untuk turun di kehidupan masyarakat.
Hal nyatanya pendidikan tampak papa pristiwa hubungan “ibu-anak “ yang terjadi secara alamiah, tampak pada pristiwa itu, berkumpul unsure yang berbeda tapi saling membutuhkan.
Pristiwa lahirnya bayi dari rahim ibunya acapkali menangis . tapi yang menyaksikan disekitar menyambut bayi yang menangis dengan gembira. Sehingga muncul situasi yang aneh antara menangis disatu pihak dan gembira sisilain.
Keadaan bayisebelumlahir ketika lapar/dahaga ia cukup merasakan saja, maka akan langsung kenyak . Tapi setelah lahir ,ketika bayi lapar tidak cukupdengan merasakan saja,tidak dating dengan sendirinya dan bahkan tidak tahu harus bagaimana, kecuali menangis , tapi ibu tau arti nangis seorang baik yaitu minta disusui karena lapar itu karena naluri seorang ibu.
Selain itu, ketika si anak menjadi bunga keluarga, kasih sayangnya di curahkan secara tulus , kehadiran anak memiliki arti yang istimewa dalam keluarga.Tapi anak juga lebih senang bermail dengan teman sebaya nya.
Hakekat paradoks adalah terjadinya kondisi kritis, langka, dan butuh, kondisi ini krisis terjadi saat bayi lahir yang betul-betul butuh bantuan. Saat bayi lapar, iya butuh bantuan karena tak tahu harus berbuat apa, kecuali menangis.kondisi krisis sebagai awal kebutuhan pendidikan. Pendidikan menciptakan kondisi krisis untuk menumbuhkan kebutuhan.
Pertama, Mengamati pristiwa itu bayi atau anak bayi yang baru lahir tidak mampu melakukan apa-apa bagi dirinya sekslipun.Bayi memerlukan pertolongan untuk ketahanan hidupnya. Bahkan untuk tumbuh menjadi besar , bagi jasmaninya mengundang kebutuhan pemeliharaan. Sedang rohaninya mengundang kebutuhan segala jenis pengetahuan yang dianggap penting bagi masyarakat.
Dilain pihak, ternyata orang tua anak dalam kondisi panggilan jiwa secara naluriah semata, yitu perbuatan terhadap anak sesuai dengan pertumbuhannya. Tujuan nya adalah untuk membentuk kpribadian dan kesadaran normatifnya.
Kedua, tampak peran pendidik dalam setiap situasi pendidikan itu,melaksanakan kontak dengan anak didik,sehingga memerlukan situasi yang kondusif dan b erlanjut. Diperlukan semangat batin pendidik. Yaitu pendidik harus memahami kondisi anak didik . Sehingga pendidik mengisi member makna pada kontak yang terjadi mengharuskan memiliki wawasan yang berkenaan dengan semangat batin yang dengan hasrat yang meyakinkan anak didik.
Ketiga, dibandingkan dengan kelompok lain kondisi manusia masih “unfixed animal” yang memerlukan adaptasi untuk mampu mempersiapkan interaksidengan lingkunagn agar bertahan hidup.sejak lahir hingga mandiri terbentang ketergantungan yang sangat lama. Ketergantungan yang lama merupakan arena yang panjang untuk menyelenggarakan pendidikan. Wawasan yang harus dipahami memiiki cakupan yang luas, tidak hanya pembeljaran sekolah namun juga dimasyarakat.
Selain itu, subtansi wawasan pendidikan merupakan tolak ukur apakah guru itu telah memiliki kewenangan mengajar atau tidak, sehingga dijadikan bagian pokok dari sertifikasi profesi pendidik. Guru hendaknya memiliki bekal tentang: pertama, wawasan perbuatan mendidik yang berkenaan dengan kemungkinan lahiriyah mengenai ungsur-ungsur yang terlibat dalam proses pendidikan. Kedua, Check and recheck apakah prilaku diri guru itu telah melaksanakan secara konsekwen apa yang diajarkan , apakah telah menjadi teladan untuk peserta didiknya. Ketiga, memiliki “kunci” untuk mengoreksi kesalahan-kesalahan pratek pendidikan, sehingga guru dapat menghindari kesalahan itu dan bertanggung jawab baik secara moral, maupun yuridis.Oleh karena itu, meskipun perbuatan guru yang salah itu tidak akan di tuntutdengan hukup positif, tetapi tidak merusak masa depan anak.
Berlawanan dengan pendapat tersebut dapat di tarik kesimpulan.setiap anak pasti bergaul dengan orang dewasa, tidak ada anak yang tumbuh langsung menjadi dewasa tampa proses pendidikan.Pendidikan tidak bisa dipisahkan dari masalah kehidupan.
Pedidikan berusaha membantu hakekat manusia supaya dapat meraih kedewasaan, yakni manusia yang memiliki integritas emosi, intelek,dan perbuatan. Kesemua itu dalam rangka melaksanakan kebebasan untuk memilih secara bertanggung jawab dan etis. Dasar inilah yang dalam gagasan otonomipedagogis perlu dikembangkan di sekolah dan guru.
Lingkungan sekolah diciptakan sedemikian rupa agar kondusif dalam menggagas potensi siswa danpertumbuhannya secara optimal, untuk itu disekolah disediakan media pengembangan intelegensi , imajinasi kreatif, dan watak. Perkembangan intelegensi bertujaun untuk memehami dan memecahkan masalah kehidupan atau adaptasi dengan situasi. Pengembangan imajinasi kreatif bertujuan untuk melatih disiplin, inisistif dan kreatifdalam mencari opsi yang paling baik. Sedangkan pengembangan watakatau karakter bertujuan untuk mengembangkan pendidikan.
Sejalan itu, proses pendidikan yang dilakukan oleh guru harus dilakukan dengan pendekatan bimbingan.latihan ,dan pengajaran. Pengembangan bertujuan untuk mengenbangkan intelegensi dan kecakapan siswa , pengajaran bertujuan untuk membantu siswa memperoleh pengetahuan dan kecerdasan dalam transformasi budaya.sedang latihan, bertujuan untuk membentuk kebiasaan hidup yang baik.
Denagn demikina gagasan pedagogis itu memiliki indikasi atau cirri sebangai berikut
a. iklimsekolah yang bersipfat demokrtis tanpa diskriminatif
b. semua siswa memiliki.inisiatif, kreatif, dan kebebasan yang bertanggung jawab secara etis.
c. Penyusunan kurikulum dilakukan disekolah sendiri dengan berpatokan dengan pristiwa disekitar
d. Isi pengajaran bertolak dari kepentingan siswa yang menitik beratkan pada pemecahan masalah
e. Guru sebagai motivator
B. Fungsi Pendidikan
Hakekat pendidikan adalah mempersipakan seseorang bagi peranannya dimasa yang akan datang. Yang dipersiapkan itu masa yang akan datang , karena kita menghabiskan hidup kita dimasa depan, maka sangat penting untuk mempersipkan masa depan. Faktor-fakto untuk memujutkan masa depan yang baik ialah, karena pendidikan sebagai upaya untuk mempersipkan peranannya dimas yang akan datang .
Pertama, renungan tentang siapa orang itu ? (siapa manusia itu),terdapat jawaban yang berbeda , dasar perbadaan itu terletak pada asumsi apa dan dimensi mana yang digunakan para ahli.
Kedua, renungan kearah mana memimpin? Perlu jauh diterawang, yaitu mencipta dan menggagas suatu individu atau masyarakat kelak.
Ketiga, renungan tentang dapatkah anak itu diarahkan? Melahirkan tiga pandangan yaitu, yang percaya pada kekuatan bakat (nativisme), yang percaya pad akekuatan lingkungan(empirisme), dan mempercayai keduanya.
Keempat, bagaimana mengarahkan yang baik? Maka, jawabannya akan berhubungan dengan tehnik mendidik, karena itu berhubungan erat perumusan jurusan.pembawaan dan jenis anak dan kondisi jaman/kondisi serta tempat , juga kepribadian pendidik.
BAB III
MENYIAPKAN KOMPETENSI GURU
Menyiapkan kompetensi guru tidak hanya menyangkut kompetensi personal, social, pedagogical dan profesional itu saja tidak cukup. Karena paling tidak subtansi kompetensi guru yang imperative harus menyangkut bidang (a) teoritis/ sistematis, seperti filsafat pendidikan, ilmu pendidikan (pedagogic), sejarah pendidikan dan perbandingan pendidikan, (b) praktis, sepeti psikologi, sosiologi, antropologi (budaya), didaktik, metodik dan media.
Fungsi penguasaan kompetensi dimaksudkan untuk mengangkat wibawa guru. Yang mana wibawa merupakan pengaruh yang baik secara abadi dari seseorang kepada orang lain yang tercermin pada pribadi dan prilaku hidupnya. Wibawa menumbuhkan ketaatan dengan kesadaran, pengertian dan persetujuan. Wibawa guru penting untuk memudahkan memberi pengaruh dalam penularan atau penyampaian pembelajaran. Sehingga wibawa guru akan cenderung menyadiri keberhasilan kerjanya, guru akan menunjukan pengakuan martabat dirinya yang tidak perlu dukungan dari orang lain seperti dengan cara intimidasi.
Dengan begitu guru akan memberikan pendidikan denngan layanan prima dan tanpa pamrih. Guru yang menunjukan unsur-unsur wawasan pendidikan, komitmen, bertanggung jawab dan kompeten biasanya akan berwibawa besar.
Ø Pertama, wawasan pendidikan berarti melakukan tindakan yang bijak berdasarkan keilmuan/teori mendidik baik pada transfer ilmu maupun pada perbuatan pembinaan.
Ø Kedua, komitmen berarti menyatakan terpanggil atau bertekad untuk memangku suatu jabatan dengfan sesungguhnya.
Ø Ketiga, tanggung jawab berarti memiliki kompetensi pendidikan keilmuan. Sperti memberikan kewenagan mengambil keputusan yang tepat bagi siswa dan dirinya.
Ø Keempat, kompeten menggambarkan pengusaan kecakapan yang memberi kewenagan untuk memutuskan sesuatu perbuatan atau tindakan.
Oleh karena itu untuk meningkatkan wibawa guru dapat dilakukan melalui wahana lembaga pengawas atu penilik guru dan lembaga pendidikan guru. Diantaranya melakukan reduksi dan refleksi pada guru mengenai wawasan pendidikan, komitmen tugas, tanggung jawab profesional dan kompetensi guru.
PT-P2TK mengelompokan mata kuliah kedalam : a. KMK kepribadian guru, b. KMK kompetensi guru, c. KMK strategi mengajar khusus bidang studi, dan KMK pengalaman lapangan (peraktik mengajar).
BAB IV
FILSAFAT PENDIDIKAN
A.Rasional
Keabsahan syarat pelaksanaan pendidikan harus melibatkan setidaknya tiga aspek utama. Pertama, tujuan merupakan pemberian arah bagi proses pendidik. Kedua, peserta didik saat dalam pelaksanaan pendidikan bukan jiwa-raga atau gejala psikologi semata, melainkan integrasi kepribadian. Ketiga, proses pendidikan menyangkut system pengaruh-mempengaruhi antar pelakupendidikan.
B.Pengertian
Filsafat Pendidikan Filsafat pendidikan adalah pilihan kebijakan (filsafat) yang diterapkan padapendidikan.
C. Tupoksi Filsafat Pendidikan
Filsafat pendidikan ialah keseluruhan kepercayaan/keyakinan atau pandangan mengenai pendidikan dengan pendapat (model) sistematik sendiri.
1. Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan bukan semata hanya nilai (tanggung jawab, jujur, cerdas, terampil,dll) yang diharapkan suatu masyarakat. tapi tidak dapat dipisahkan dari tujuan hidup manusia. sebab pendidikan dijadikan sarana/alat untuk mencapai tujuan hidup manusia.
2. Pencitraan Cita-cita
a. Rangsangan Ibu
Ibu memulai kontak social berupa pangkuan, menetekan, senyuman dan bentuk komunikasi verbal. sehingga komunikasi merupakan syarat mutlak bagi pengembangan sosialitas anak.
b. Rangsangan guru
Guru melaksanakan pendidikan dalam berbagai bentuk kecakapan dan ilmu yang penting untuk menyiapkan kehidupan dimasyarakat . Selain itu, guru harus mampu menyadarkan peserta didik mengenai betapa masa depan yang dihadapi perlu dipikirkan serius.
BAB V
ANTROPOLOGI FILSAFAT
Antropologi filsafat merupakan cabang filsafat yang menjelasakan hakekat manusia. Prbadi S. (1981) menjelaskan enam antropologi filsafat yang berkaitan dengan peserta didik diantaranya ;
· Individualitas
Individu peserta didik memiliki hak otonom yang tidak dapat diganggu gugat oleh siapa pun. Oleh karena itu pendidik tidak dibenarkan memaksa peserta didiknya karena hal demikian berakibat timbulnya konflik antara pendidik dan peserata didik.
· Potensialitas
Pendidik harus mengembangkjan potensi yang dimiliki setap individu, sehingga pendidik harus bersifat ; a. terbuka, artinya berdialog/kooperatif antara pendidik dengan peserta didik, b. pengaruh yang dapat diresap oleh peserta didik. Karena itu pendidik harus dapat memahami setiap peserta didik dan memberikan dorongan supaya anak berkembang dengan berbagai potensi yang dimilikinya.
· Moralitas
Individu peserta didik memiliki martabat/harga diri setara dengan pendidik yang harus dihormati. Sehingga pendidik harus memberikan contoh yang baik bagi peserta didiknya . pengakuan pendidik terhadap peseta didik bersifat unconditional regard (keharusan tanpa syarat), pengabaian akan menimbulkan a. proses pendidikan tidak lancar b. peserta didik tidak kooperatif c. peserta didik akan membandel, menentang dan akan melakukan perbuatan sebab takut perintah.
· Sosialitas
Individu memiliki sifat bekerja sama atau kooperatif sehingga pendidik dapat mempengaruh mereka ke arah yang baik tanpa adanya pemaksaan yang membuat mereka enggan untuk belajar.
· Bakat / uniqitas
Individu peserta didik tentunya memiliki kepribadian yang berbeda-beda ada yang pemarah, agresif, sabar, pendiam, bergerak cepat atu lambat dan banyak perbedaan lainya. Sehingga pendidik harus menyesuaikan dirinya untuk memperlakukan mereka dalam proses pendidikan sesuai dengan sifat yang uniknya itu.
· Holisitas/keseluruhan/kesatuan jiwa dan raga
Individu peserta didik memiliki kesatuan jiwa dan raga atau keseluruhan jasmani dan rohani. Sehingga peserta didik harus di asumsikan sebagai keseluruhan atau kesatuan jiwa raga, lingkungan sosial masyarakat, lingkungan alam, dimensi jaman atau waktu dan keagamaannya. Oleh karena itu individu peserta didik dipengaruhi oleh banyak dimensi baik keluarga, suku, bangsa maupun lingkungan alam dan dipengaruhi oleh sejarah.