Berita

Loading...

Selasa, 08 Mei 2012

Kembangkan Kurikulum Khusus Pembelajaran


Laporan Wartawan Tribun Jambi, Hendri Dede Putra  Kamis, 3 Mei 2012 

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - SMAN Titian Teras H Abdurahman Sayoeti Jambi merupakan salah satu SMA yang tervalidasi secara nasional untuk RSBI di Povinsi Jambi.

Setiap tahun peminat SMAN TT terus meningkat. Pada tahun ajaran 2012/2013 akan diterima 241 siswa hingga saat ini sudah 490 yang siswa mendaftarkan diri.

Kepala Sekolah Edy Purwanta MPd juga mengatakan saat ini 605 siswa terdiri dari 21 rombel.  SMAN TT juga memilki 65 guru. S2 enam guru dan 9 guru tahap penyelesaian.

Di sekolah ini semua siswa menginap di asrama, dengan sistem Boarding School, hanya dibolehkan hari Minggu jam 9.00-17.00 wib waktu untuk ketemu keluarga.

Hal lain yang menarik di sekolah ini adalah pengembangan kurikulum. Di samping mengacu ke Dinas pendidikan nasional juga dilaksanakan kurikulum khusus SMAN TT. Kurikulum khusus tersebut dikatakan wakil kepala sekolah bidang kurikulum Dwi Sapno Nugrahanto terdiri dari kepemimpinan dan belanegara.

Filosofi untuk mempersiapkan anak sebagai jiwa pemimpin yang nasionalis, khusus pelajaran tersebut pihak sekolah mendatangkan pemateri dari tokoh masyarakat yang mempunyai wawasan budaya. Sedangkan untuk etika politk ada beberapa materi kepimpinan yang diajarkkan, organisasi, manajemen, etika politik, study tokoh dan temu tokoh." Seperti bertemu dengan gubernur dan tokoh lainnya," ujar waka kurikulum Dwi Sapno Nugrahanto.

Sedangkan untuk bela negara ada beberapa materi yang diajarkan seperti peratuaran baris berbaris (PBB), tata upacara militer, kesemaptaan, geo strategi, politik, serta hukum dan HAM. Untuk bela negara sendiri yang memberikan materi diundang dari TNI, kepolisian dan bisa juga dari lingkungan hidup.

Di samping kurikulum tersebut SMAN TT juga kaya akan prestasi siswa serta guru. Prestasi gemilang SMAN TT tingkat Nasional adalah Juara I Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara Oktober 201 serya  tahun 2011 Olimpiade Sains Nasional di Manado mendapat medali perak untuk Kebumian dan dua perunggu untuk astronomi.

Pada tahun 2012 sebagai peserta olimpiade sains nasional (OSN) ke tingkat Provinsi Jambi dengan mengirim 44 siswa, 3 karate dan satu silat.

Sementara untuk guru sendiri meraih Juara III guru berprestasi tingkat Provinsi Jambi tahun 2011, atas nama Burhani guru mata pelajaran Fisika.



Selasa, 24 April 2012

Aksi Peringantan Hari Bumi BEM HMJP Geografi UPI (Berita Foto)

Teatrikal Tentang Keadaan Bumi
Mahasiswa Jurusan Geografi UPI Kampanye Hari Bumi Di Car Free Day Dago

Bandung, BEM Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Geografi UPI Bandung dalam hal ini Bidang Lingkungan yang merupakan bidang ciri khas, mengkampanyekan Hari Bumi Sedunia yang jatuh pada setiap tanggal 22 April di Car Free Day, Jalan Ir. H. Juanda, Kota Bandung, Minggu (22/4/2012). Pada acara tersebut mahasiswa Geografi UPI malakukan teatrikal yang menggambarkan keadaan bumi saat ini, membagi-bagikan pamflet yang isinya mengajak semua masyarakat peduli terhadap keadaan lingkungan, berorasi mengajak masyarakat peduli terhadap lingkungan mulai dari hal-hal yang kecil, misalnya tidak membuang sampah sembarangan dan menanam pohon dan mengambil sampah-sampah di sepanjang kawasan Car Free Day Bandung. Acara tersebut sempat menyedot perhatian warga yang ada pada Car Free Day pada acara tersebut kurang-lebih diikuti oleh 70 mahasiswa dan untuk menarik perhatian pengunjung Car Free Day mahasiswa membuat pocong yang bertuliskan "I LOVE EARTH" yang menunjukan matinya kepedulian masyarakat terhadap lingkungan.

Aksi Hari Bumi BEM JPG UPI
Pamflet Hari Bumi
Orasi Hari Bumi
Pocong Eksis sama pengunjung CFD 

Pocong Beraksi
Tidak Sekedar Orasi Tapi juga Aksi

Dibalik Layar


Aksi Hari Bumi

Selasa, 03 April 2012

Ujian Tengah Semester Bimbingan dan Konseling (UTS BK)




1.    Pencapaian tujuan pendidikan memerlukan tiga layanan yaitu layanan manajemen, kurikulum pembelajaran serta bimbingan dan konseling
a.    Jelaskan posisi bimbingan dan konseling dalam pencapaian tujuan pendidikan?
Pendidikan merupakan suatu proses pembentukkan manusia yang seutuhnya. Pendidikan yang baik ialah yang melaksanakan bidang administrative dan kepemimpinan, bidang instruksional dan kurikuler dan juga bidang pembinaan siswa (bimbingan dan konseling). Pendidikan yang hanya melaksanakan  bidang tertentu dengan mengabaikan bidang bimbingan mungkin hanya akan menghasilkan individu yang pintar dan terampil dalam aspek akademik, tetapi kurang memiliki kemampuan  atau kematangan dalam aspek psikososiospiritual. Jadi bidang pembinaan siswa (bimbingan dan konseling) merupakan bidang yang penting untuk keperluan pengembangan siswa dalam keseluruhan kegiatan pendidikan khususnya pada tatanan persekolahan. Bimbingan dan konseling juga berperan untuk memberikan layanan kepada siswa agar dapat berkembang secara optimal melalui proses pembelajaran secara efektif. Untuk membantu siswa dalam proses pembelajaran, pendekatan yang digunakan adalah pendekatan pribadi agar dapat membantu keseluruhan proses belajarnya. Pendidikan yang bermutu dan baik ialah pendidikan yang mengintergrasikan ketiga bidang tersebut dengan baik.

Sumber:
Dewi, 2010, Kedudukan Bimbingan dan Konseling dalam Pendidikan serta Konsep dasar Bimbingan dan Konseling, [online], (http://dewi-dewilin.blogspot.com/2010/09/kedudukan-bimbingan-dan-konseling-dalam.html, diakses tanggal 1 April 2012)
Juntika, Yusuf. (2008). Landasan Bimbingan dan konseling. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

 


b.    Mengapa layanan bimbingan dan konseling harus dikelola dan disampaikan pendidik dengan kualifikasi pendidikan bimbingan dan konseling
Karena apabila BK memiliki tujuan untuk membantu peserta didik memiliki kompetensi mengembangkan potensi dirinya seoptimal mungkin atau mewujudkan nilai-nilai yang terkandung dalam tugas-tugas perkembangan yang harus dikuasainya sebaik mungkin. Layanan bimbingan dan konseling bukan layanan untuk siswa yang bermasalah dalam disiplin sehingga konselor menjadi polisi sekolah juga bukan layanan yang membantu menyelesaikan semua masalah tetapi masalah yang berkenaan dengan kondisi psikologis peserta didik. Orientasi layanan bimbingan dan konseling sesuai dengan tuntutan paradigma pendidikan saat ini adalah layanan bimbingan dan konseling perkembangan yang membantu perkembangan peserta didik secara optimal. Pengertian dari koselor ataupun guru BK itu sendiri banyak yang disalah artikan baik oleh pihak sekolah, orang tua dan murid sehingga banyak siswa yang kurang mau untuk meminta petunjuk dan juga bimbingan pada guru BK mereka.
Konselor itu sendiri merupakan pekerjaan seorang professional yang memiliki banyak kualifikasi dan menuntut professionalisme yang cukup tinggi bahkan sampai ada Standar Kompetensi Konselor Indonesia sehingga tidak semua orang bisa dengan mudah bisa menjadi seorang konselor atau guru BK. Konselor merupakan seorang pendidik(UU RI no. 20 tahun 2003 pasal 1 ayat 6) karena itu konselor harus berkompetensi sebagai pendidik. Konselor adalah seorang profesional karenanya layanan bimbingan dan konseling diatur dan didasarkan dalam kode etik.
Sumber:
Dharma, S., 2008, Bimbingan dan Konseling di Sekolah [.pdf], [online], (http://www.docstoc.com/?doc_id=68203806&download=1, diakses tanggal 1 April 2012)
          Juntika, Yusuf. (2008). Landasan Bimbingan dan Konseling. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

c.     Bagaimana peran layanan bimbingan dan konseling dalam proses pembelajaran yang dikelola oleh guru mata pelajaran?
Guru mata pelajara terbatsa pada bidang apa yang ia ajarkan pada siswanya. Tetapi hal ini memiliki pengaruh tersendiri bagi para siswa yang memiliki kesulitan dan membutuhkan layanan BK. Sebut saja dalam bimbingan akademik. Selain kita dapat meminta saran dan pendapat (bimbingan) dari guru BK kita, kita juga dapat meminta saran pada guru mata pelajaran tersebut dengan harapan guru tersebut dapat memberikan solusi dalam mata pelajaran yang ia kuasai. Sebut saja kita mengalami kesulitan dalam mata pelajaran fisika, apabila kita menceritakan kesulitan kita pada guru mata pelajaran tersebut bisa saja guru tersebut memberikan berbagai macam cara maupun alternative untuk membuat kita lebih mudah dalm mempelajari fisika dan agat kita lebih menyukai dan mengerti pelajaran tersebut.
Guru-guru mata pelajaran dalam melakukan pendekatan kepada siswa harus manusiawi-religius, bersahabat, ramah, mendorong, konkret, jujur dan asli, memahami dan menghargai tanpa syarat. Prayitno (2003) memerinci peran, tugas dan tanggung jawab guru-guru mata pelajaran dalam bimbingan dan konseling adalah :
a.       Membantu memasyarakatkan pelayanan bimbingan dan konseling kepada siswa
b.      Membantu guru pembimbing/konselor mengidentifikasi siswa-siswa yang memerlukan layanan bimbingan dan konseling, serta pengumpulan data tentang siswa-siswa tersebut.
c.       Mengalihtangankan siswa yang memerlukan pelayanan bimbingan dan konseling kepada guru pembimbing/konselor
d.      Menerima siswa alih tangan dari guru pembimbing/konselor, yaitu siswa yang menuntut guru pembimbing/konselor memerlukan pelayanan pengajar /latihan khusus (seperti pengajaran/ latihan perbaikan, program pengayaan).
e.      Membantu mengembangkan suasana kelas, hubungan guru-siswa dan hubungan siswa-siswa yang menunjang pelaksanaan pelayanan pembimbingan dan konseling.
f.        Memberikan kesempatan dan kemudahan kepada siswa yang memerlukan layanan/kegiatan bimbingan dan konseling untuk mengikuti /menjalani layanan/kegiatan yang dimaksudkan itu.
g.       Berpartisipasi dalam kegiatan khusus penanganan masalah siswa, seperti konferensi kasus.
h.      Membantu pengumpulan informasi yang diperlukan dalam rangka penilaian pelayanan bimbingan dan konseling serta upaya tindak lanjutnya.

Sumber:
Puspitasari, L., 2010, Unjuk Kerja Guru dalam Konseling, Sosial, dan Manajerial, [online], (http://jejakperlawananku.blogspot.com/2010/10/unjuk-kerja-guru-dalam-konseling-sosial.html, diakses tanggal 1 April 2012)
Juntika, Yusuf. (2008). Landasan Bimbingan dan konseling. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

2.    Pendekatan bimbingan dan konseling yang dilaksanakan dalam setting pendidikan di sekolah merupakan pendekatan komprehensif yang berbasis perkembangan
a.       Jelaskan yang dimaksud dengan komprehensif dan perkembangan!
Psikologi Perkembangan adalah suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari kegiatan/tingkah laku individu manusia dalam perkembangannya beserta latar belakang yang mempengaruhinya. Bimbingan dan konseling komprehensif atau yang disebut dengan bimbingan dan konseling perkembangan (karena mengharap semua aspek kehidupan peserta didik)merupakan orientasi baru dalam kegiatan layanan bimbingan dan konseling yang didasari fungsi pengembangan dengan prinsip antara lain; (1) dibutuhkan oleh semua peserta didik ; (2) fokus pada kegiatan belajar peserta didik;  (3) konselor dan guru merupakan fungsionaris yang bekerjasama;  (4) berorientasi tim dan pelayanan konselor profesional;  (5) memiliki dasar dalam psikologi anak, perkembangan anak dengan tujuan (1) mengenal dan memahami potensi, kekuatan, dan tugas-tugas perkembangannya, (2) mengenal dan memahami potensi atau peluang yang ada di lingkungannya, (3) mengenal dan menentukan tujuan dan rencana hidupnya serta rencana pencapaian tujuan tersebut, (4) memahami dan mengatasi kesulitan-kesulitan sendiri (5) menggunakan kemampuannya untuk kepentingan dirinya, kepentingan lembaga tempat bekerja dan masyarakat, (6) menyesuaikan diri dengan keadaan dan tuntutan dari lingkungannya; dan (7) mengembangkan segala potensi dan kekuatannya yang dimilikinya secara tepat dan teratur secara optimal.
Sumber:
Juntika, Yusuf. (2008). Landasan Bimbingan dan Konseling. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
No name, 2011, Bimbingan dan Konseling Perkembangan: Bimbingan dan Konseling Komprehensif, [online], (http://konselingperkembangan.blogspot.com/2011/03/bimbingan-dan-konseling-komprehensif_04.html, diakses tanggal 1 April 2012)


b.      Jelaskan peran pihak pimpinan sekolah dalam layanan bimbingan dan konseling.
Kepala sekolah selaku penanggung jawab seluruh penyelenggaraan pendidikan di sekolah memegang peranan strategis dalam mengembangkan layanan bimbingan dan konseling di sekolah. Secara garis besarnya, Prayitno (2004) memerinci peran, tugas dan tanggung jawab kepala sekolah dalam bimbingan dan konseling, sebagai berikut :
• Mengkoordinir segenap kegiatan yang diprogramkan dan berlangsung di sekolah, sehingga pelayanan pengajaran, latihan, dan bimbingan dan konseling merupakan suatu kesatuan yang terpadu, harmonis, dan dinamis.
• Menyediakan prasarana, tenaga, dan berbagai kemudahan bagi terlaksananya pelayanan bimbingan dan konseling yang efektif dan efisien.
• Melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap perencanaan dan pelaksanaan program, penilaian dan upaya tidak lanjut pelayanan bimbingan dan konseling.
• Mempertanggungjawabkan pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah.
• Memfasilitasi guru pembimbing/konselor untuk dapat mengembangkan kemampuan profesionalnya, melalui berbagai kegiatan pengembangan profesi.
• Menyediakan fasilitas, kesempatan, dan dukungan dalam kegiatan kepengawasan yang dilakukan oleh Pengawas Sekolah Bidang BK.
Sumber:
 Puspitasari, L., 2010, Unjuk Kerja Guru dalam Konseling, Sosial, dan Manajerial, [online], (http://jejakperlawananku.blogspot.com/2010/10/unjuk-kerja-guru-dalam-konseling-sosial.html, diakses tanggal 1 April 2011)
Juntika, Yusuf. (2008). Landasan Bimbingan dan konseling. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

c.       Bagaimana pendapat anda tentang peran orang tua siswa (peserta didik)?
Dalam upaya meningkatkan kualitas peluncuran program bimbingan, konselor perlu melakukan kerjasama dengan para orang tua siswa. Kerjasama ini penting agar proses bimbingan terhadap siswa tidak hanya berlangsung di sekolah, tetapi juga oleh orang tua di rumah. Melalui kerjasama ini memungkinkan terjadinya saling memberikan informasi, pengertian, dan tukar pikiran antar konselor dan orang tua dalam upaya mengembangkan potensi siswa atau memecahkan masalah yang mungkin dihadapi siswa.
Untuk melakukan kerjasama dengan orang tua ini, dapat dilakukan beberapa upaya, seperti : (1) kepala sekolah atau komite sekolah mengundang para orang tua untuk datang ke sekolah (minimal satu semester satu kali), yang pelaksanaannnya dapat bersamaan dengan pembagian rapor, (2) sekolah memberikan informasi kepada orang tua (melalui surat) tentang kemajuan belajar atau masalah siswa, dan (3) orang tua diminta untuk melaporkan keadaan anaknya di rumah ke sekolah, terutama menyangkut kegiatan belajar dan perilaku sehari-harinya.
Sumber:
Puspitasari, L., 2010, Unjuk Kerja Guru dalam Konseling, Sosial, dan Manajerial, [online], (http://jejakperlawananku.blogspot.com/2010/10/unjuk-kerja-guru-dalam-konseling-sosial.html, diakses tanggal 1 April 2012)
Dharma, S., 2008, Bimbingan dan Konseling di Sekolah [.pdf], [online], (http://www.docstoc.com/?doc_id=68203806&download=1, diakses tanggal 1 April 2012)
Juntika, Yusuf. (2008). Landasan Bimbingan dan konseling. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

3.    Program bimbingan dan konseling dalam meluncurkan layanannya meliputi bidang akademik, pribadi-sosial dan karir..
a.         Jelaskan materi yang dapat diperoleh siswa melalui program keterampilan belajar dan sukses belajar untuk sukses hidup
Materi yang diterima siswa melalui program ketermpilan belajar dan sukses belajar untuk susses hidup antara lain cara pengenalan kurikulum, pemilihan jurusan/konsentrasi, cara belajar yang baik, penyelesaian tugas-tugas dan latihan yang menurutnya sulit, pencarian dan penggunaan sumber belajar, perencanaan pendidikan lanjutan dan lain sebagainya. Para pembimbing membantu siswa untuk menciptakan suasana belajar yang kondusif, mengembangkan cara belajar yang efektif, membantu individu sukses dalam belajar dan agar mampu menyesuaikan diri terhadap semua tuntutan program/pendidikan untuk menciptakan individu peerus seperti yang diinginkan.

Juntika, Yusuf. (2008). Landasan Bimbingan dan konseling. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya


b.        Apa yang dapat diperoleh siswa melalui program menghargai diri sendiri dan orang lain?
Program bimbingan ini membuat individu/siswa dalam mengatasi masalah-masalah yang dia alami dalam social-pribadi. Seperti masalah dengan teman, dengan dosen, staff, pemahaman sifat dan kemampuan diri, penyesuaian diri dengan lingkungan pendidikan dan masyarakat tempat mereka tinggal, dan penyelesaian konflik. Bimbingan ini diarahkan agar individu dapat menyelesaikan masalah dirinya dengan baik.. Bimbingan ini mengarah apda pencapaian pribadi yang seimbang dengan memperhatikan keunikan karakteristik pribadi serta ragam permasalahan yang dialami oleh individu. Bimbingan ini diberikan dengan cara memberikan kondisi lingkungan yang kondusif, interaksi pendidikan yang akrab, mengembangkan system pemahaman diri dan sikap-sikap yang positif, serta keterampilan-keterampilan social-pribadi yang tepat.

Juntika, Yusuf. (2008). Landasan Bimbingan dan konseling. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

4.    Siswa sebagai individu perlu dipahami sebagai individu yang berada dalam proses perkembangan
a.       Jelaskan bahwa individu memiliki dorongan untuk berkembang kearah positif sesuai kemampuannya.
Seorang individu memiliki dorongan tersendiri untuk berkembang kearah positif yang lebih baik lagi sesuai kemampuannya. Sebagian besar individu ingin mendapatkan atau menginginkan hal yang lebih baik dari pada yang kemarin ia dapatkan. Hal tersebut merupakan prestasi tersendiri bagi mereka apabila mereka bisa mendapatkan hal tersebut. Dengan akal yang dimiliki setiap individu, mereka akan berfikir untuk menjadi individu yang lebih baik lagi sesuai kemampuan yang dimilikinya. Seperti peribahasa yang sering kita dengar yang berarti tidak ada seorang pun yang mau jatuh di lubang yang sama. Maksudnya ialah dari kesalahan yang pernah ia perbuat, ia tidak akan mengulanginya lagi sehingga dengan tidak adanya pengulangan tersebut maka ia menjadi individu yang lebih baik lagi. Sayangnya hal ini memang tidak dianut oleh semua orang, tetapi sebagian orang yang menganutnya akan mengalami perubahana kearah yang lebih positif dari sebelumnya.
Juntika, Yusuf. (2008). Landasan Bimbingan dan konseling. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya







b.      Jelaskan bahwa siswa memiliki kebebasan dalam memilih dan bertanggung jawab, menerima resiko atas pilihannya
Siswa memiliki kebebasan dalam memilih dan bertanggung jawab menerima resiko dari pilihannya tersebut. Terutama apabila individu atau siswa terseut sudah besar (dewasa) tentu dia sudah harus bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Mana yang baik untuk didirnya dan mana yang tidak baik. Segala sesuatunya dia putuskan sendiri dan dia tanggung sendiri juga resikonya karena dia bukan anak kecil lagi yang harus kita campuri urusannya, mereka memiliki privasi tersendiri sehingga orang dewasa pun harus memberi kepercayaan pada dirinya untuk memilih dan bertanggung jawab. Contohnya saja pilihannya akan jurusan yang akan ia tekuni dengan serius sebagai calon profesi masa depannya. Hendaknya mereka diveri kebebasan untuk memilihnya sehingga apabila ada penyesalana di kemudian hari itu merupakan resiko dari pilihannya. Karena itu merupakan pilihannya sendiri ia pun akan menerima resikonya sendiri dengan penuh tanggung jawab.

Sumber:
Juntika, Yusuf. (2008). Landasan Bimbingan dan konseling. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya


c.       Mengapa siswa perlu mengenal karakteristik pribadi (intelektual, bakat, kepribadian, minat, dll) untuk mendukung pilihan cita-cita dan karirnya?
Siswa harus mengetahui kakteristik pribadi mereka sendiri karena itu merupakan bekalnya untuk di masa depan agar ia dapat menuntukan pilihan masa depannya dengan benar dan baik agar tidak ada penyesalan di kemudian hari. Contohnya saja apabila individu tersbut memiliki bakat tersendiri dalam bidang musik maka dia bisa memilih untuk mendalami musik dengan menjadi seorang pemusik professional ataupun menjadi guru musik dengn cara ia mendalami bidang musik yang bisa membawanya menjadi seorag tenaga pengajar dalam bidang musik. Dari apa yang saya contohkan di atas kita dapat melihat pentingnya individu mengetahui bakatnya, kepribadian maupun minatnya untuk mendukung pilihan cita-cita dan karirnya.

Sumber: Juntika, Yusuf. (2008). Landasan Bimbingan dan konseling. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
 Nama                    : Ade Suryansyah S
        Nim                       : 1005435
        Kelas                    : Pend. Geografi 2010 B 
        Mata Kuliah        : Bimbingan dan Konseling
        Tanggal                : 4 April 2012
        Ujian Tengah Semester

Rabu, 28 Maret 2012

Keterampilan Mengajar


Turney (1973) mengemukakan 8 keterampilan dasar mengajar, yakni:


1. Keterampilan Bertanya
Guru harus mampu memancing minat siswa melalui pertanyaan – pertanyaan cerdas, menarik, dan memiliki bobot nilai belajar di dalamnya. Namun guru juga harus mengatur pertanyaannya agar masih dalam konteks pembelajaran yang akan disajikan agar tidak terlalu melebar dari pembahasan selanjutnya. Dengan pertanyaan yang dapat memancing minat siswa, maka akan berimbas pada keinginan belajar siswa.
2. Keterampilan Memberi Penguatan.
Dalam pembelajaran, siswa sangat membutuhkan dorongan semangat untuk terus belajar dan manjadikan siswa haus akan ilmu. Karena itu, perlu adanya penguatan dari pihak yang aktif terlibat dalam pembelajaran di kelas yaitu guru. Dengan demikian siswa akan merasa makin terpacu untuk belajar.
3. Keterampilan Mengadakan Variasi
Agar siswa tidak mudah merasa bosan dengan pembelajaran di sekolah, guru harus senantiasa mengadakan inovasi dan variasi dalam KBM. Jangan sampai menggunakan metode yang sama di setiap pembelajaran, karena akan berakibat bosannya siswa hingga mereka akan kehilangan minat belajar.
4. Keterampilan Menjelaskan

Guru diharapkan mampu merefleksi segala informasi sesuai dengan kehidupan sehari-hari. Setidaknya, penjelasan yang diberikan harus relevan dengan tujuan, materi, sesuai dengan kemampuan dan latar belakang siswa, serta diberikan pada awal, tengah, ataupun akhir pelajaran sesuai dengan keperluan.


5. Keterampilan Membuka dan Menutup Pelajaran
Cara membuka dan menutup pelajaran secara langsung maupun tidak dapat mempengaruhi psikis anak, karena itu guru perlu mempertimbangkan cara membuka dan menutup pembelajaran yang sarat akan pembangkit semangat dan pesan. Misalnya seperti pemberian ice breaking di kegiatan awal.
6. Keterampilan Membimbing Diskusi Kelompok Kecil
Hal terpenting dalam proses ini adalah mencermati aktivitas siswa dalam diskusi serta membimbing siswa ketika mereka menemui kesulitan agar pembahasan tidak melenceng dari materi yang didiskusikan.
7. Keterampilan Mengelola Kelas
Mencakup keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal, serta pengendalian kondisi belajar yang optimal. Secara garis besarnya adalah mengkondisikan kelas agar menjadi tempat yang nyaman bagi siswa untuk menuntut ilmu
8. Keterampilan Mengajar Kelompok Kecil dan Perorangan
Yang mensyaratkan guru agar mengadakan pendekatan secara pribadi, mengorganisasikan, membimbing dan memudahkan belajar, serta merencanakan dan melaksanakan kegiatan belajar-mengajar.

Kamis, 15 Maret 2012

Batas-batas Negara Indonesia



Indonesia memiliki batas  dengan 10 negara :
Perbatasan darat :
-          Malaysia
-          Papua Nugini
-          Timor Leste
Perbatasan Laut :
-          Malaysia
-          Singapura
-          Thailand
-          Vietnam
-          Palau
-          Papua Nugini
-          Australia
-          Timor Leste
Perbatasan Udara
-          Mengikuti batas darat dan laut



Sumber :Kuliah Umum  “Border diplomacy dalam upaya memelihara NKRI” oleh Raudin Anwar, SH,LLM Sesditjan Hukum dan Perjanjian Internasional di Universitas Pendidikan Indonesia



Jumat, 02 Maret 2012

Tugas Resume " Landasan Pendidikan"





BAB I
PERMASALAHAN
A.Pendahuluan
     Tampak para ahli pendidikan dan birokrasinya sepakat bahwa masalah mutu pendidikan nasional terletak pada faktor kunci belum tercapainya standar mutu guru. Usaha perbaikannya yaitu meningkatkan mutu guru dan kesejahteraanya serta fasilitas pendidikannya. Permasalahan guru saat ini menyangkut: 1). Kondisi guru belum menunjukkan profesionalisme kerja, 2). Arah lembaga pendidikan guru belum mampu membentuk watak guru profesionalisme, 3). Produk pendidikan sekolah dimana guru berperan kurang mengembangkan kata hati peserta didiknya.
     Usaha minimal yang dapat dilakukan dengan cara melakukan penyajian bahan belajar mengenai: 1). Peran guru dalam kancah pendidikan, 2).Peran guru dalam mengarahkan alternative pilihan tujuan hidup peserta didik, 3). Peran guru dalam melakukan tindakan dan teknik pembelajaran serta pendidikan yang relavan.
     Karena itu lembaga pendidikan guru harus mengambil peranan dalam peranan profesionalitas. Paradigma peran guru saat ini yang dimaknai teaching as presenting information atau pun teaching as transmitting information harus diubah menjadi paradigma peran guru yang dimaknai teaching as encouraging (anjuran) active learning, bahkan ditingkatkan menuju teaching as developing a better person. Sehingga tempat belajar menjadi menyenangkan untuk belajar.
     Guru professional harus berhadapan langsung dengan peserta didiknya dalam penyesuaian tingkat kemampuan peserta didik. Sehingga guru dapat membentuk mengapresiasi kehidupan serta mengantisipasi perkembangan masa depan dalam era persaingan dan globalisasi.
     Karakteristik guru professional: 1). Menguasai bidang keahliannya secara baik, 2). Mempunyai komitmen moral tinggi atas pekerjaan bidang keahliannya itu, 3). Dapat memecahkan persoalan rumit dalam bidang keahliannya dengan wajar dan hasil yang bermutu.

B. Hilangnya Pedagogik
     Dalam dasa warsa akhir mellinium ke-2 muncul pemberitaan mengenai pedagogic menuju lonceng kematian. Faktor penyebabnya bukan karena pedagogic tidak bermanfaat, melainkan soal selera. Indikasi kepiawaian mengajar adalah penampilan kewibawaan. Penampilan guru yang beribawa akan memberikan kontribusi terhadap hasil pendidikan yang bermutu.
     Upaya untuk memahami kewibawaan penampilan guru ialah dengan menguasai pedagogic dan filsafat pendidikan. Tapi sekarang pendidikan guru sangat mengutamakan penguasaan materi disiplin ilmu,sehingga posisi pedagogic dan filsafat pendidikan bukan lagi bagian penting dalam kurikulum pendidikan guru tersebut.
     Penampilan guru dengan kewibawaan lemah tidak akan mampu mengendalikan proses belajar mengajar, guru yang demikian itu dapat memberikan akses menurunnya moralitas siswa. Penampilan guru dengan kewibawaan yang lemah dilingkungan teman sejatwanya pun akan bermain intrik dan politik agar memperoleh jalan mulus untuk memenuhi ambisi pribadinya.
     Jadi sejauh ini pedagogi “dirampas” dari pengakuan guru dan sekolah oleh kekuatan birokrasi pendidikan, sehingga guru dan tenaga kependidikan menjadi pelaksana rutin segala sesuatu kebijakan birokrasi. Pembentukan iklim penyeragaman penampilan guru di kelas, berakibat kemampuan unggul siswa terabaikan sehingga keluaran sekolah cenderung pragmatic, disorientasi social dan tidak kreatif atau berdedikatif.
     Pemberlakuan kurikulum dilengkapi sejumlah pedoman pelaksanaanya secara rinci, mengakibatkan kreativitas guru terpasung. Tugas guru lebih condong pada tuntutan gugur kewajiban, sehingga pendekatan mengajar yang dilaksanakan guru pun tidak berubah diseputar ceramah, tugas PR, menyalin latihan, menjawab soal, dan mengikuti les atau bimbel.
     Pendidikan berusaha membantu manusia supaya meraih kootonomiannya (kedewasaannya), yaitu manusia yang memiliki integritas emosi, intelek dan perbuatan yang diwujudkan didalam kebebasan menetapkan pilihan secara etis dan bertanggung jawab, tujuan hidupnya tidak berorientasi pragmatic dan materialistic.

C.Tiga Peluang Kesalahan Guru 
     Secara teoritis ada tiga peluang bagi guru melakukan kesalahan didalam tugas mengajar, yaitu:
1). Kesalahan Teknis yaitu guru yang kurang terampil dalam melaksanakan     pembelajaran yang baik.
2). Kesalahan Konsep yaitu guru yang menafsirkan konsep-konsep ilmu pendidikan secara keliru.
3). Kesalahan Kepribadian yaitu guru yang memiliki sumber dan struktur kepribadian yang menyimpang.
     Padahal guru seharusnya menjadi teladanan bagi murid-muridnya meskipun kesalahannya itu tidak mengandung tuntutan hukum positif tetapi perbuatan guru dapat dapat dipertanggungjawabkan secara moral dan yuridis. Selain itu pada gilirannya guru akan memberikan kontribusi terhadap proses pembelajaran terutama: a). Dapat menciptakan suasana pengajaran yang manusiawi. b). Dapat mengambil keputusan yang adil dan hikmat bijaksana. c). Dapat memberikan materi pengajaran yang mengandung muatan atau pesan-pesan nilai/moral yang kelak bagi siswa mampu menuntun perilaku dalam sepanjang kehidupannya secara bermoral.
     Kebrutalan siswa itu sempat menjadi focus perhatian banyak pihak serta dianggap penting untuk menghidupkan kembali budi pekerti sebagai mata pelajaran tersendiri di sekolah. Dengan demikian solusi yang diperlukan guru adalah peningkatan kemampuan mengajarkan materi pelajaran yang sekaligus kemampuan mendidik siswa.
     Oleh karena itu, perbedaan antara level sertifikasi pendidik terletak pada tingkat kualifikasinya. Sertifikasi pendidik level A, yaitu berkualifikasi dalam interaksi mengajar secara reflektif/proaktif. Sertifikasi pendidik level B, yaitu berkualifikasi dalam interaksi mengajar secara alektif/reaktif. Sertifikasi pendidik level C, yaitu berkualifikasi dalam interaksi mengajar secara dialogic/partisipatif. Sertifikasi pendidik level D, yaitu berkualifikasi dalam interaksi mengajar secara habit formation/ kasih sayang.
     Sehingga penyelenggaraan sertifikasi pendidik itu jelas tidak terletak pada lamanya ataupun besarnya biaya.           

BAB II
Peran Pendidik dan Pengajar
Pemahaman peran guru dapat diketahui setelah melakukan pengamatan terhadap pendidikan. Pendidikan tampak pada proses pembelajaran seperti ketika pendididk mentransfer nilai-nilai tanggung jawab, ketika pendidik membantu perkembangan anak didik, dan ketika pendidik menyiapkan para peserta didik untuk turun di kehidupan masyarakat.
Hal nyatanya pendidikan tampak papa pristiwa hubungan “ibu-anak “ yang terjadi secara alamiah, tampak pada pristiwa itu, berkumpul unsure yang berbeda  tapi saling membutuhkan.
Pristiwa lahirnya bayi dari rahim ibunya acapkali menangis . tapi yang menyaksikan disekitar menyambut bayi yang menangis dengan gembira. Sehingga muncul situasi yang aneh antara menangis disatu pihak dan gembira sisilain.
Keadaan bayisebelumlahir ketika lapar/dahaga ia cukup merasakan saja, maka akan langsung kenyak . Tapi setelah lahir ,ketika bayi lapar tidak cukupdengan merasakan saja,tidak dating dengan sendirinya dan bahkan tidak tahu harus bagaimana, kecuali menangis , tapi ibu tau arti nangis seorang baik yaitu minta disusui karena lapar itu karena naluri seorang ibu.
Selain itu, ketika si anak menjadi bunga keluarga, kasih sayangnya di curahkan secara tulus , kehadiran anak memiliki arti yang istimewa dalam keluarga.Tapi anak juga lebih senang bermail dengan teman sebaya nya.
Hakekat paradoks adalah terjadinya kondisi kritis, langka, dan butuh, kondisi ini krisis terjadi saat bayi lahir yang betul-betul butuh bantuan. Saat bayi lapar, iya butuh bantuan karena tak tahu harus berbuat apa, kecuali menangis.kondisi krisis sebagai awal kebutuhan pendidikan. Pendidikan menciptakan kondisi krisis untuk menumbuhkan kebutuhan.
Pertama, Mengamati pristiwa itu bayi atau anak bayi yang baru lahir tidak mampu melakukan apa-apa bagi dirinya sekslipun.Bayi memerlukan pertolongan untuk ketahanan hidupnya. Bahkan untuk tumbuh menjadi besar , bagi jasmaninya mengundang kebutuhan pemeliharaan. Sedang rohaninya mengundang kebutuhan segala jenis pengetahuan yang dianggap penting bagi masyarakat.
Dilain pihak, ternyata orang tua anak dalam kondisi panggilan jiwa secara naluriah semata, yitu perbuatan terhadap anak sesuai dengan pertumbuhannya. Tujuan nya adalah untuk membentuk kpribadian dan kesadaran normatifnya.
Kedua, tampak peran pendidik dalam setiap situasi pendidikan itu,melaksanakan kontak dengan anak didik,sehingga memerlukan situasi yang kondusif dan b erlanjut. Diperlukan semangat batin pendidik. Yaitu pendidik harus memahami kondisi anak didik . Sehingga pendidik mengisi member makna pada kontak yang terjadi mengharuskan memiliki wawasan yang berkenaan  dengan semangat batin yang dengan hasrat yang meyakinkan anak didik.
Ketiga, dibandingkan dengan kelompok lain kondisi manusia masih “unfixed animal” yang memerlukan adaptasi untuk mampu mempersiapkan interaksidengan lingkunagn agar bertahan hidup.sejak lahir hingga mandiri terbentang ketergantungan yang sangat lama. Ketergantungan yang lama merupakan arena yang panjang untuk menyelenggarakan pendidikan. Wawasan yang harus  dipahami memiiki cakupan yang luas, tidak hanya pembeljaran sekolah namun juga dimasyarakat.
Selain itu, subtansi wawasan pendidikan merupakan tolak ukur apakah guru itu telah memiliki kewenangan mengajar atau tidak, sehingga dijadikan bagian pokok dari sertifikasi profesi pendidik. Guru hendaknya memiliki bekal tentang: pertama, wawasan perbuatan mendidik yang berkenaan dengan kemungkinan lahiriyah mengenai ungsur-ungsur yang terlibat dalam proses  pendidikan. Kedua, Check and recheck apakah prilaku diri guru itu telah melaksanakan secara konsekwen apa yang diajarkan , apakah telah menjadi teladan untuk peserta didiknya. Ketiga, memiliki “kunci” untuk mengoreksi kesalahan-kesalahan pratek pendidikan, sehingga guru dapat menghindari kesalahan itu dan bertanggung jawab baik secara moral, maupun yuridis.Oleh karena itu, meskipun perbuatan guru yang salah itu tidak akan di tuntutdengan hukup positif, tetapi tidak merusak masa depan anak.
Berlawanan dengan pendapat tersebut dapat di tarik kesimpulan.setiap anak pasti bergaul dengan orang dewasa, tidak ada anak yang tumbuh langsung menjadi dewasa tampa proses pendidikan.Pendidikan tidak bisa dipisahkan dari masalah kehidupan.
Pedidikan berusaha membantu hakekat manusia supaya dapat meraih kedewasaan, yakni manusia yang memiliki integritas emosi, intelek,dan perbuatan. Kesemua itu dalam rangka melaksanakan kebebasan untuk memilih secara bertanggung jawab dan etis. Dasar inilah yang dalam gagasan otonomipedagogis perlu dikembangkan di sekolah dan guru.
Lingkungan sekolah diciptakan sedemikian rupa agar kondusif dalam menggagas potensi siswa danpertumbuhannya secara optimal, untuk itu disekolah disediakan media pengembangan intelegensi , imajinasi kreatif, dan watak. Perkembangan intelegensi bertujaun untuk memehami dan memecahkan masalah kehidupan atau adaptasi dengan situasi. Pengembangan imajinasi kreatif bertujuan untuk melatih disiplin, inisistif dan kreatifdalam mencari opsi yang paling baik. Sedangkan pengembangan watakatau karakter bertujuan untuk mengembangkan pendidikan.
Sejalan itu, proses pendidikan yang dilakukan oleh guru harus dilakukan dengan pendekatan bimbingan.latihan ,dan pengajaran. Pengembangan bertujuan untuk mengenbangkan intelegensi dan kecakapan siswa , pengajaran bertujuan untuk membantu siswa memperoleh pengetahuan dan kecerdasan dalam transformasi budaya.sedang latihan, bertujuan untuk membentuk kebiasaan hidup yang baik.
Denagn demikina gagasan pedagogis itu memiliki indikasi atau cirri sebangai berikut
a.       iklimsekolah yang bersipfat demokrtis tanpa diskriminatif
b.      semua siswa memiliki.inisiatif, kreatif, dan kebebasan yang bertanggung jawab secara             etis.
c.       Penyusunan kurikulum dilakukan disekolah sendiri dengan berpatokan dengan pristiwa disekitar
d.      Isi pengajaran bertolak dari kepentingan siswa yang menitik beratkan pada pemecahan masalah
e.      Guru sebagai motivator
B. Fungsi Pendidikan
Hakekat pendidikan adalah mempersipakan seseorang bagi peranannya dimasa yang akan datang. Yang dipersiapkan itu masa yang akan datang , karena kita menghabiskan hidup kita dimasa depan, maka sangat penting untuk mempersipkan masa depan. Faktor-fakto untuk memujutkan masa depan yang baik ialah, karena pendidikan sebagai upaya untuk mempersipkan peranannya dimas yang akan datang .
Pertama, renungan tentang siapa orang itu ? (siapa manusia itu),terdapat jawaban yang berbeda , dasar perbadaan itu terletak pada asumsi apa dan dimensi mana yang digunakan para ahli.
Kedua, renungan kearah mana memimpin? Perlu jauh diterawang, yaitu mencipta dan menggagas suatu individu atau masyarakat kelak.
Ketiga, renungan tentang dapatkah anak itu diarahkan? Melahirkan tiga pandangan yaitu, yang percaya pada kekuatan bakat (nativisme), yang percaya pad akekuatan lingkungan(empirisme), dan mempercayai keduanya.
Keempat, bagaimana mengarahkan yang baik? Maka, jawabannya akan berhubungan dengan tehnik mendidik, karena itu berhubungan erat perumusan jurusan.pembawaan dan jenis anak  dan kondisi jaman/kondisi serta tempat , juga kepribadian pendidik.
BAB III
MENYIAPKAN KOMPETENSI GURU

Menyiapkan kompetensi guru tidak hanya menyangkut kompetensi personal, social, pedagogical dan profesional itu saja tidak cukup. Karena paling tidak subtansi kompetensi guru yang imperative harus menyangkut bidang (a) teoritis/ sistematis, seperti filsafat pendidikan, ilmu pendidikan (pedagogic), sejarah pendidikan dan perbandingan pendidikan, (b) praktis, sepeti psikologi, sosiologi, antropologi (budaya), didaktik, metodik dan media.
Fungsi penguasaan kompetensi dimaksudkan untuk mengangkat wibawa guru. Yang mana wibawa merupakan pengaruh yang baik secara abadi dari seseorang kepada orang lain yang tercermin pada pribadi dan prilaku hidupnya. Wibawa menumbuhkan ketaatan dengan kesadaran, pengertian dan persetujuan. Wibawa guru penting untuk memudahkan memberi pengaruh dalam penularan atau penyampaian pembelajaran. Sehingga wibawa guru akan cenderung menyadiri keberhasilan kerjanya, guru akan menunjukan pengakuan martabat dirinya yang tidak perlu dukungan dari orang lain seperti dengan cara intimidasi.
Dengan begitu guru akan memberikan pendidikan denngan layanan prima dan tanpa pamrih. Guru yang menunjukan unsur-unsur wawasan pendidikan, komitmen, bertanggung jawab dan kompeten biasanya akan berwibawa besar.
Ø  Pertama, wawasan pendidikan berarti melakukan tindakan yang bijak berdasarkan keilmuan/teori mendidik baik pada transfer ilmu maupun pada perbuatan pembinaan.
Ø  Kedua, komitmen berarti menyatakan terpanggil  atau bertekad untuk memangku suatu jabatan dengfan sesungguhnya.
Ø  Ketiga, tanggung  jawab berarti memiliki kompetensi  pendidikan keilmuan. Sperti memberikan kewenagan mengambil  keputusan  yang tepat bagi siswa dan dirinya.
Ø  Keempat, kompeten menggambarkan pengusaan kecakapan yang memberi kewenagan untuk memutuskan sesuatu perbuatan atau tindakan.
Oleh karena itu untuk meningkatkan wibawa guru dapat dilakukan melalui wahana lembaga pengawas atu penilik guru dan lembaga pendidikan guru. Diantaranya melakukan reduksi dan refleksi pada guru mengenai wawasan pendidikan, komitmen tugas, tanggung jawab profesional dan kompetensi guru.      
PT-P2TK mengelompokan mata kuliah kedalam : a. KMK kepribadian guru, b. KMK kompetensi guru, c. KMK strategi mengajar khusus bidang studi, dan KMK pengalaman lapangan (peraktik mengajar).

BAB IV
FILSAFAT PENDIDIKAN
A.Rasional
Keabsahan syarat pelaksanaan pendidikan harus melibatkan setidaknya tiga aspek utama. Pertama, tujuan merupakan pemberian arah bagi proses pendidik. Kedua, peserta didik saat dalam pelaksanaan pendidikan bukan jiwa-raga atau gejala psikologi semata, melainkan integrasi kepribadian. Ketiga, proses pendidikan menyangkut system pengaruh-mempengaruhi  antar pelakupendidikan.

B.Pengertian
Filsafat Pendidikan Filsafat pendidikan adalah pilihan kebijakan (filsafat) yang diterapkan padapendidikan.
C. Tupoksi Filsafat Pendidikan
      Filsafat pendidikan ialah keseluruhan kepercayaan/keyakinan atau pandangan mengenai pendidikan dengan pendapat (model) sistematik sendiri.

    1. Tujuan Pendidikan
            Tujuan pendidikan bukan semata hanya nilai (tanggung jawab, jujur, cerdas, terampil,dll) yang diharapkan suatu masyarakat. tapi tidak dapat dipisahkan dari tujuan hidup manusia. sebab pendidikan dijadikan sarana/alat untuk mencapai tujuan hidup manusia.
     2. Pencitraan Cita-cita
            a. Rangsangan Ibu
                Ibu memulai kontak social berupa pangkuan, menetekan, senyuman dan bentuk komunikasi verbal. sehingga komunikasi merupakan syarat mutlak bagi pengembangan sosialitas anak.
            b. Rangsangan guru
                Guru melaksanakan pendidikan dalam berbagai bentuk kecakapan dan ilmu yang penting untuk menyiapkan kehidupan dimasyarakat . Selain itu, guru  harus mampu menyadarkan peserta didik mengenai betapa masa depan yang dihadapi perlu dipikirkan serius.
BAB V
ANTROPOLOGI FILSAFAT
Antropologi filsafat merupakan cabang filsafat yang menjelasakan hakekat manusia. Prbadi S. (1981) menjelaskan enam antropologi filsafat yang berkaitan dengan peserta didik diantaranya ;
·      Individualitas
Individu peserta didik memiliki hak otonom yang tidak dapat diganggu gugat oleh siapa pun. Oleh karena itu pendidik tidak dibenarkan memaksa peserta didiknya karena hal demikian berakibat timbulnya konflik antara pendidik dan peserata didik.
·      Potensialitas
Pendidik harus mengembangkjan potensi yang dimiliki setap individu, sehingga pendidik harus bersifat ; a. terbuka, artinya berdialog/kooperatif antara pendidik dengan peserta didik, b. pengaruh yang dapat diresap oleh peserta didik. Karena itu pendidik harus dapat memahami setiap peserta didik dan memberikan dorongan supaya anak berkembang dengan berbagai potensi yang dimilikinya.

·   Moralitas
Individu peserta didik memiliki martabat/harga diri setara dengan pendidik yang harus dihormati. Sehingga pendidik harus memberikan contoh yang baik bagi peserta didiknya . pengakuan pendidik terhadap peseta didik bersifat unconditional regard (keharusan tanpa syarat), pengabaian akan menimbulkan a. proses pendidikan tidak lancar b. peserta didik tidak kooperatif c. peserta didik akan membandel, menentang dan akan melakukan perbuatan sebab takut perintah.
·   Sosialitas
Individu memiliki sifat bekerja sama atau kooperatif sehingga pendidik dapat mempengaruh mereka ke arah yang baik tanpa adanya pemaksaan yang membuat mereka enggan untuk belajar.
·   Bakat / uniqitas
Individu peserta didik tentunya memiliki kepribadian yang berbeda-beda ada yang pemarah, agresif, sabar, pendiam, bergerak cepat atu lambat dan banyak perbedaan lainya. Sehingga pendidik harus menyesuaikan dirinya untuk memperlakukan mereka dalam proses pendidikan sesuai dengan sifat yang uniknya itu.
·   Holisitas/keseluruhan/kesatuan jiwa dan raga
Individu peserta didik memiliki kesatuan jiwa dan raga atau keseluruhan jasmani dan rohani. Sehingga peserta didik harus di asumsikan sebagai keseluruhan atau kesatuan jiwa raga, lingkungan sosial masyarakat, lingkungan alam, dimensi jaman atau waktu dan keagamaannya. Oleh karena itu individu peserta didik dipengaruhi oleh banyak dimensi baik keluarga, suku, bangsa maupun lingkungan alam dan  dipengaruhi oleh sejarah.